Ternyata Harta Bakal Dibawa Mati

Dibulan Ramdhan yang mulia dan penuh berkah ini, mari sejenak kita menyimak hikmah untuk meningkatkan motivasi ibadah kita agar bulan mulia ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Berikut ini artikel tentang pentingnya berbagi untuk bekal akhirat.

“Beberapa waktu lalu saya tersentuh tersadar saat mendengar seorang khotib pada khutbah jum’at. Khotib tersebut menyampaikan bahwa kita harus mempersiapkan bekal untuk pulang menghadap sang khalik, Alloh SWT. Salah satu bekal yang harus kita persiapkan adalah harta.

Lho?!? kok harta dibawa mati? Emang harta bakalan dibawa ke kubur???
Mungkin itu salah satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya atau mungkin juga anda saat mendengar pernyataan itu.

Selama ini mindset kita dibentuk bahwa harta tidak akan dibawa mati, harta tidak akan dibawa ke kubur, harta hanya bisa dinikmati saat kita hidup. Pernyataan tersebut memang ada benarnya untuk mencegah kita agar tidak terlalu sibuk dengan harta yang melalaikan kita dan lupa dengan aktivitas ibadah untuk bekal di akhirat kelak. Namun pernyataan tadi tidak sepenuhnya benar, karena ternyata harta akan dapat membantu kita saat berada di alam kubur.

Ya! harta yang kita sisihkan dalam bentuk shodaqoh jariah seperti WAKAF, merupakan harta yang akan membantu kita setelah meninggalkan dunia ini, karena pahala amalnya akan terus mengalir, tidak terputus meskipun kita meninggal dunia (jika ditunaikan dengan ikhlas tentunya).

Hal itu ditegaskan oleh sabda Rosullulloh SAW : “Jika seorang manusia mati, terputus darinya ‘amalnya kecuali dari 3 (perkara) : SHODAQOH JARIYAH, atau ‘ilmu yang bermanfa’at, atau anak sholeh yang berdo’a baginya”. (HR. Muslim 14-(1631)))

Dari hadist tadi terlihat bahwa salah satu amal yg tidak akan terputus meski meninggal dunia adalah harta yg kita tunaikan dalam bentuk shodaqoh jariyah seperi wakaf. Apalagi jika wakaf yang diberikan, dijadikan tempat bermanfaat, seperti mesjid atau sarana belajar ilmu islam. Selama sarana tersebut digunakan, maka insyaAlloh pahalanya akan terus mengalir kepada pemberi wakaf.

Jadi tunggu apalagi, mumpung kita masih hidup, mumpung rezeki masih lancar, yu kita persiapkan bekal kita dengan menyisihkan harta untuk sodara-sodara kita yang membutuhkan khususnya dalam bentuk WAKAF (bisa mesjid, bangunan, fasilitas umum, buku-buku, dll).”

Salah satu ladang amal yang ada adalah pembangunan mesjid Al-Robithoh di sekolah plus pesantren untuk yatim & dhuafa di Kecamatan Ciparay Kab. Bandung.

wakaf mesjid

Untuk donasi wakaf, silakan transfer ke rekening:

Mandiri 130 00 0785068 1 a/n Yay psaa Robithoh atau
BNI 0251373770 a/n H. Koswara
Via Paypal: donatedhuafa@gmail.com

Untuk konfirmasi donasi, silakan SMS ke: 0838 27 155 156

Mudah-mudahan diberikan keikhlasan dalam menunaikan infaq, wakaf, dan shodaqoh dan mudah-mudahan pahalanya mengalir hingga hari qiamat kelak. Aaamiin

Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Kemarin

“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (Al Hadist)

Itu lah petikan hadist Rosululloh Muhammad SAW berabad abad silam. Terlepas dari lemah atau kuatnya hadist tersebut, rosululloh telah mengingatkan kita bahwa setiap hari amal kita harus lebih baik dari hari sebelumnya agar kita termasuk orang yang beruntung. Jika saat ini sama dengan kemarin berarti kita termasuk orang yang rugi, apalagi jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka kita termasuk orang yang celaka.

Dari uraian tadi kita mungkin berfikir bahwa sangatlah sulit untuk setiap hari menjadi orang beruntung yang terus kualitasnya naik, karena sunatulloh kita sebagai manusia terkadang amal kita lebih buruk dari hari sebelumnya. Oleh karena itu, kita harus mensiasati hal tersebut dengan cara memperbaiki kekurangan hari sebelumnya dengan lebih banyak melakukan kebaikan setelahnya.

Misal, hari ini lebih buruk dari kemarin, maka besok kita harus mengganti keburukan yang dilakukan hari ini dengan taubat dan kebaikan yang lebih banyak, begitu juga jika hari selanjutnya kita lebih buruk dari sebelumnya, maka kita harus mengganti keburukan hari itu dengan taubat dan berbuat baik yang lebih banyak (turun sedikit naik lebih banyak), sehingga tidak terasa selama sebulan kualitas keimanan, ibadah dan hidup kita merangkak naik, meskipun fluktuatif, begitu pun seterusnya sebulan, setahun, dan bertahun-tahun insyaAlloh kita menjadi lebih baik.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung yang terus berubah menjadi lebih baik. Aamiin

Wallohu’alam